6 Alasan Mengapa Daur Ulang Sulit Dilakukan

Pengertian Daur Ulang dan Pentingnya Mendaur Ulang - Hyundai Motorstudio

Proses daur ulang sampah sangat bermanfaat untuk mengurangi permasalahan timbunan sampah. Proses ini menjadi bagian dari upaya menghemat energi dan bahan baku serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Dengan adanya daur ulang, masyarakat diharapkan mampu memilih dan menggunakan kembali barang yang tidak terpakai agar tidak langsung dibuang begitu saja. Namun kenyataannya, kegiatan daur ulang tidaklah semudah yang terlihat. Kegiatan ini banyak yang tidak terlaksana karena beberapa hal. Berikut ini adalah alasan mengapa program daur ulang sulit untuk dilakukan. Simak penjelasannya.

 

1.      Memerlukan Kemampuan Khusus

Faktanya bahwa tidak semua orang dapat melakukan daur ulang, baik untuk menjadi barang baru maupun barang yang beralih fungsi karena membutuhkan kemampuan seperti menggunting, merangkai, dan mengikuti pola. Terlebih lagi pada proses daur ulang biasanya menggunakan mesin tertentu, hal ini pasti membutuhkan kemampuan khusus. Sehingga diperlukan solusi untuk memberi pelatihan keterampilan seperti perwakilan suatu daerah ataupun dimasukkan ke dalam kurikulum wajib di sekolah. Supaya nantinya masyarakat terbiasa dengan keterampilan tersebut, minimal hal yang mendasar telah dikuasai.

 

2.      Membutuhkan Mesin Tertentu

Contoh daur ulang yang menjadi perhatian adalah sampah botol plastik, untuk membuat sampah tersebut menjadi barang baru seperti gelas, tatakan gelas dan sebagainya membutuhkan mesin pencacah untuk membuat potongan botol plastik menjadi kecil sehingga mudah untuk dileburkan lalu dicetak kembali menjadi barang baru yang dibutuhkan. Harga mesin pencacah juga tidak murah sehingga tidak mudah dijangkau untuk banyak orang agar bisa membuat sampah menjadi produk baru. Mungkin kedepannya perlu adanya subsidi mesin di tiap daerah agar proses daur ulang bisa terlaksana secara massal.

 

3.      Membutuhkan Material Tambahan

Proses daur ulang sampah tidak selalu membuat barang baru. Mendaur ulang sampah bisa juga dengan mengubah fungsinya. Namun tetap saja membutuhkan material tambahan. Misalnya baju yang sudah usang jika ingin didaur ulang menjadi barang lain seperti sarung tangan dan celemek baru tetap membutuhkan material tambahan untuk membuatnya seperti alat menjahit, gunting, pola, dan sebagainya. Sehingga memang tidak mudah untuk mendaur ulang jika mengandalkan hanya bahan yang akan diolah saja.

 

4.      Masyarakat Skeptis

Masyarakat Indonesia kebanyakan skeptis dengan kegiatan pemilahan sampah karena mereka melihat sampah yang sudah dipisahkan nantinya akan tercampur juga di dalam truk dan gerobak sampah. Hal ini tentu harus menjadi perhatian, tidak hanya proses pemilahan saja yang harus diperbaiki, namun dari segi pengangkutan pun perlu diberi fasilitas agar sampah tetap terpisah sesuai jenisnya. Di luar negeri, masyarakat sudah terbiasa memisahkan sampah organik dan non organik karena memang didukung fasilitas tempat sampah yang terpisah juga. Selain itu perlu juga regulasi dari pemerintah untuk mewajibkan memilah sampah supaya nantinya masyarakat terbiasa melakukan hal tersebut.

 

5.      Pengelolaan Belum Profesional

Pengelolaan sampah di daerah berjalan tidak maksimal karena tidak ditangani oleh orang yang profesional dan ahli di bidang sampah. Bank sampah biasanya dipegang oleh individu secara sukarela, terutama oleh ibu rumah tangga. Kebanyakan bank sampah ini tidak bisa menutup biaya pengeluaran seperti aset, fasilitas, dan biaya operasional karena bergantung kepada partisipasi aktif nasabah. Ketika pengelola bank sampah merasa waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat ekonomi yang didapat, maka mereka akan memilih untuk berhenti.

 

6.      Memakan Waktu Lama

Proses daur ulang tentunya memakan waktu yang lebih lama sehingga hasil kinerja pun tidak bisa dirasakan secara langsung. Untuk itu diperlukan konsistensi dan komitmen agar proses daur ulang bisa terlaksana dengan lancar.